Asta Cita, sebagai visi dan misi yang diusung oleh Presiden Prabowo Subianto dalam pemerintahan, tentulah membutuhkan gerak nyata untuk memastikan keberhasilan Kabinet Merah Putih (Red and White Cabinet). Konsep ini tidak sekadar menjadi pedoman normatif, tetapi harus diterjemahkan dalam kebijakan konkret yang berdampak luas pada pembangunan nasional.
Dengan menitikberatkan pada delapan prinsip utama, Asta Cita menuntut sinergi antara kementerian dan lembaga negara agar implementasinya tidak sekadar menjadi retorika politik semata. Oleh karena itu, dibutuhkan strategi yang matang, implementasi yang konsisten, serta evaluasi yang berkelanjutan untuk memastikan bahwa visi ini tidak hanya menjadi slogan, tetapi benar-benar membawa perubahan nyata bagi bangsa.
Tanpa adanya langkah konkret dalam perencanaan dan eksekusi kebijakan, visi besar ini akan ¬sulit diwujudkan. Oleh karena itu, Kabinet Merah Putih harus mengadopsi pendekatan berbasis hasil (result-oriented approach) agar setiap program yang dijalankan memiliki indikator keberhasilan yang jelas. Setiap kementerian dan lembaga harus memiliki target yang spesifik dan terukur, sehingga progres dalam mencapai Asta Cita can be monitored regularly.
Dalam aspek pertahanan dan keamanan, Asta Cita menuntut modernisasi militer yang sejalan dengan kebutuhan strategis Indonesia di tengah dinamika geopolitik global. Presiden Prabowo Subianto, dengan pengalamannya sebagai Menteri Pertahanan, diharapkan dapat melanjutkan upaya memperkuat sistem pertahanan nasional melalui modernisasi alat utama sistem senjata (alutsista) serta peningkatan profesionalisme prajurit.
Pemerintah harus mendorong penguatan industri pertahanan domestik dengan transfer teknologi, peningkatan kapasitas produksi, serta dukungan riset dan pengembangan. Dengan demikian, Indonesia dapat mencapai kemandirian dalam sektor pertahanan yang menjadi salah satu pilar utama dalam Asta Cita.
Selain itu, aspek kesejah¬teraan rakyat dalam Asta Cita harus diwujudkan melalui kebijakan ekonomi yang pro-rakyat dan berbasis pada kemandirian nasional. Reformasi di sektor agraria, industri, serta pemberdayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) harus menjadi prioritas utama agar ketahanan ekonomi dapat terwujud. Keberhasilan Kabinet Merah Putih dalam aspek ini, akan sangat ditentukan oleh sejauh mana pemerintah mampu menciptakan ekosistem ekonomi yang inklusif.
Untuk memperkuat ketahanan ekonomi, Indonesia dapat mencontoh negara-negara seperti Korea Selatan dan Tiongkok, yang berhasil membangun industri berbasis teknologi tinggi, melalui kebijakan yang konsisten dan dukungan penuh terhadap riset serta inovasi. Langkah konkret seperti memberikan insentif bagi industri strategis, dan membangun pusat-pusat riset yang berorientasi pada kebutuhan industri nasional, harus menjadi bagian dari implementasi Asta Cita.
Di bidang pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia, Asta Cita mengamanatkan peningkatan kualitas pendidikan sebagai salah satu prioritas utama. Pemerintah harus memastikan bahwa akses terhadap pendidikan yang berkualitas dapat dinikmati oleh seluruh rakyat Indonesia, tanpa terkecuali. Program beasiswa, peningkatan kompetensi tenaga pengajar, serta penyelarasan kurikulum dengan kebutuhan industri dan teknologi menjadi langkah penting yang harus diambil.
Selain pendidikan formal, perlu juga diperkuat sektor pelatihan vokasi yang dapat menyesuaikan tenaga kerja dengan kebutuhan industri. Negara-negara maju telah membuktikan bahwa program vokasi yang kuat, dapat mengurangi angka pengangguran dan meningkatkan produktivitas tenaga kerja. Oleh karena itu, Indonesia perlu memperluas kerja sama dengan sektor swasta dalam menyediakan pelatihan berbasis industri yang sesuai dengan standar global.
Selanjutnya, dalam aspek tata kelola pemerintahan, transparansi dan akuntabilitas harus menjadi prinsip utama dalam menjalankan Asta Cita. Reformasi birokrasi yang lebih efektif dan efisien, harus diterapkan agar pelayanan publik dapat berjalan dengan optimal.
Digitalisasi layanan pemerintahan, pemangkasan regulasi yang berbelit, serta peningkatan integritas aparatur sipil negara menjadi langkah-langkah konkret yang dapat mempercepat pencapaian target Asta CitaDengan tata kelola yang baik, kebijakan-kebijakan yang telah dirumuskan dapat dieksekusi dengan lebih cepat dan tepat sasaran.
- Asta Cita dapat menjadi fondasi bagi keberhasilan Kabinet Merah Putih, diperlukan kepemimpinan yang visioner, manajemen yang efektif, serta mekanisme evaluasi yang berkelanjutan. Setiap program yang dijalankan harus dapat diukur efektivitasnya melalui parameter yang objektif dan transparan.
Evaluasi berkala dan koreksi terhadap kebijakan yang kurang efektif, harus dilakukan untuk memastikan bahwa setiap langkah yang diambil selaras dengan tujuan besar yang ingin dicapai. Tanpa adanya langkah nyata dan keberanian dalam mengambil keputusan strategis, Asta Cita hanya akan menjadi slogan tanpa makna.
Oleh karena itu, komitmen politik dan kerja nyata harus menjadi prinsip utama dalam menjalankan pemerintahan yang berlandaskan pada delapan cita-cita tersebut. Pemerintah harus menunjukkan bahwa setiap kebijakan yang diambil benar-benar berorientasi pada kesejahteraan rakyat dan kemajuan bangsa, bukan sekadar memenuhi janji politik semata.
Bagaimanapun Asta Cita membutuhkan lebih dari sekadar wacana; ia membutuhkan strategi yang jelas, koordinasi yang kuat, serta implementasi yang konsisten. Kabinet Merah Putih harus mampu menghadirkan kepemimpinan yang tangguh dan inovatif dalam mewujudkan visi besar ini.
Dengan kerja keras, dedikasi, dan keberanian dalam mengambil keputusan yang tepat, Asta Cita dapat menjadi motor penggerak bagi kemajuan Indonesia yang berdaulat, mandiri, dan sejahtera.
Prof. Dr. Drs. Ermaya Suradinata, SH, MH, MS, is a member of the Expert Council of BPIP RI in the field of Geopolitics and Government Strategy.