In Memoriam Try Sutrisno: Membumikan Pancasila Di Tengah Badai Geopolitik Dunia
Indonesia kembali kehilangan salah satu putra terbaiknya. Try Sutrisno wafat pada Senin, 2 Maret 2026, pukul 06.58 WIB di RSPAD Gatot Soebroto dalam usia 90 tahun. Kepergian Wakil Presiden ke-6 Republik Indonesia ini menghadirkan duka yang dalam, tetapi lebih dari itu, ia mengundang refleksi tentang fondasi kebangsaan yang selama ini ia jaga dengan penuh konsistensi: Pancasila, yang merupakan ideologi sebagai dasar negara yang digali dari bumi Indonesia oleh Presiden pertama RI Ir. Seokarno.
Semasa hidupnya, saya bersama beliau terasa singkat di Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP). Jenderal TNI (Purn) Try Sutrisno sebagai Wakil Ketua Dewan Pengarah BPIP, yang dipimpin Ketua Dewan Pengarah BPIP adalah Ibu Prof. DR.(H.C) Hj. Megawati Soekarnoputri yang juga Wakil Presiden Indonesia ke-8 dan Presiden Indonesia ke-5. Dan dibantu beberapa anggota Dewan Pengarah, serta Kepala BPIP yang dipimpin oleh Prof. Drs. KH. Yudian Wahyudi, dan dibantu beberapa unsur pimpinan. Penguatan untuk memperkokoh ideologi Pancasila, demokrasi, dan HAM yang dijadikan pedoman dalam Asta Cita Presiden Prabowo Subianto dalam Kabinet Merah Putih.
Dalam lanskap global yang kian tidak menentu—ditandai rivalitas kekuatan besar, fragmentasi ekonomi, konflik kawasan, hingga perang narasi di ruang digital—komitmen membumikan Pancasila justru menemukan urgensinya. Dan pada titik inilah warisan moral Try Sutrisno menjadi relevan untuk direnungkan kembali. Bersamaan pula di mana kekuatan negara harus berakar pada ideologi yang kokoh. Stabilitas nasional bukan hanya soal pertahanan fisik atau -ketertiban politik, melainkan juga ketahanan ideologis.
Dalam sepanjang fase pengabdian Try Sutrisno terhadap bangsa dan negera, komitmen tersebut semakin menemukan ruang artikulasinya melalui Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP). Sebagai Wakil Ketua Dewan Pengarah BPIP, Try Sutrisno dikenal sangat disiplin dan berintegritas dalam mendorong pembumian Pancasila. Ia tidak melihat Pancasila sebagai dokumen arsip sejarah, melainkan sebagai ideologi hidup yang harus terus diterjemahkan dalam kebijakan publik, tata kelola pemerintahan, hingga perilaku warga negara.
Di tengah menguatnya polarisasi global —antara liberalisme pasar yang ekstrem, nasionalisme sempit, dan radikalisme berbasis identitas—Try Sutrisno memandang Pancasila sebagai jalan tengah yang berakar pada pengalaman historis Indonesia sendiri. Tambahan pula di mana geopolitik global hari ini bergerak dalam pusaran ketidakpastian yang nyaris tak menemukan jeda. Ketegangan antara Iran dan poros Amerika Serikat–Israel kembali memanaskan Timur Tengah, konflik Israel–Palestina belum juga menemukan titik damai yang berkeadilan, sementara perang Rusia–Ukraina terus mengguncang stabilitas Eropa dan rantai pasok energi dunia.
Di Asia Selatan, gesekan Pakistan–Afganistan menyisakan persoalan keamanan kawasan, dan dinamika Thailand–Kamboja memperlihatkan betapa rapuhnya relasi antarnegara bila sentimen nasionalisme tak terkelola dengan bijak. Maka dalam lanskap seperti ini, dunia seakan kehilangan jangkar moral; relasi internasional bergerak dalam logika kekuatan dan kepentingan semata. Efek dominonya merambat ke ekonomi, pangan, energi, bahkan kepercayaan ¬publik terhadap tata dunia yang adil.
Dalam konteks itulah pula warisan pemikiran Try Sutrisno menemukan relevansinya. Ia meyakini bahwa kompas moral dan strategis bangsa ini adalah Pancasila. Bagi Try, Pancasila bukan hanya simbol pemersatu internal, melainkan fondasi etis bagi cara Indonesia memandang dan merespons dunia. Ketika negara-negara lain terjebak dalam politik blok dan kalkulasi transaksional, Indonesia dituntut tetap berdiri pada prinsip kemanusiaan, keadilan, dan perdamaian yang berkelanjutan.
Pancasila, jika dibaca secara mendalam, sesungguhnya menawarkan horizon etik yang melampaui batas teritorial Indonesia. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa menegaskan penghormatan terhadap martabat spiritual manusia tanpa memaksakan hegemoninya; sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab menolak kekerasan dan penjajahan dalam bentuk apa pun; sila Persatuan Indonesia mengajarkan bahwa identitas kolektif dapat dibangun tanpa meniadakan keberagaman; sila Kerakyatan menegaskan pentingnya musyawarah di atas dominasi; dan sila Keadilan Sosial menuntut distribusi kesejahteraan yang tidak timpang.
Nilai-nilai ini, jika dikontekstualisasikan dalam tata dunia, dapat menjadi tawaran ideologis alternatif di tengah kegagalan ekstremisme, liberalisme yang tak terkendali, maupun nasio-nalisme sempit. Pancasila tidak lahir dari ambisi hegemonik, melainkan dari pengalaman historis bangsa yang majemuk—dan justru karena itu ia berpotensi menjadi inspirasi global. Maka agar Pancasila memiliki resonansi dunia, ia harus terlebih dahulu kokoh di rumahnya sendiri. Pembumian Pancasila yang diperjuangkan Try memiliki dimensi domestik yang tak terpisahkan dari peran global Indonesia.
Ketahanan nasional di era globalisasi tidak cukup dibangun melalui pertumbuhan ekonomi, tetapi melalui kohesi sosial dan kepercayaan publik terhadap negara. Polarisasi politik, disinformasi digital, dan politik identitas dapat menjadi celah yang melemahkan daya tawar Indonesia di panggung internasional. Karena itu, penguatan internalisasi nilai-nilai Pancasila melalui pendidikan, reformasi birokrasi, dan keteladanan elite menjadi prasyarat mutlak.
Di tengah perang yang belum usai dan ketegangan yang terus berulang, dunia membutuhkan lebih dari sekadar keseimbangan kekuatan; ia membutuhkan keseimbangan nilai. Indonesia mungkin bukan kekuatan militer raksasa, tetapi ia memiliki kekuatan ideologis yang khas. Dalam dunia yang cenderung transaksional dan terpolarisasi, konsistensi pada Pancasila dapat menjadi kontribusi Indonesia bagi peradaban: menghadirkan jalan tengah, merawat kemanusiaan, dan menegaskan bahwa perdamaian sejati lahir dari keadilan.
Badai geopolitik global yang belum menunjukkan tanda-tanda reda, Indonesia membutuhkan lebih banyak pemimpin dan warga negara yang menjadikan Pancasila sebagai laku hidup, bukan sekadar retorika seremonial. “In Memoriam Try Sutrisno” bukan hanya catatan duka, tetapi juga seruan agar kita tidak kehilangan arah.
Pancasila tetap kita jaga dan bumikan secara konsisten, maka Indonesia akan mampu menciptakan stabilitas politik, moneter, dan tata kelola fiskal menjadi kemandirian bangsa berdiri tegak, tidak hanya sebagai negara yang bertahan, tetapi sebagai bangsa yang memberi makna dalam Percaturan Geopolitik Dunia.
Prof. Dr. Drs. Ermaya Suradinata, SH, MH, MS
adalah Pemerhati Geopolitik, dan Geostrategi, serta Manajemen Pemerintahan.
