(Prof. Dr. Drs. Ermaya Suradinata, SH, MH, MSI, adalah mantan Dirjen Sospol Depdagri RI, Rektor IPDN, Gubernur Lemhannas RI, dan saat ini Dewan Pakar Bidang Geopolitik dan Geostrategi BPIP RI.) Angka yang besar
(Prof. Dr. Drs. Ermaya Suradinata, SH, MH, MSI, adalah mantan Dirjen Sospol Depdagri RI, Rektor IPDN, Gubernur Lemhannas RI, dan saat ini Dewan Pakar Bidang Geopolitik dan Geostrategi BPIP RI.) Angka yang besar
Ada pesan tentang kekuatan ketahanan suatu bangsa, yang seharusnya pesan ini tak boleh dilupakan, terlebih ketika masa kini Indonesia memasuki era global di mana banyak negara persenjataannya begitu canggih. Dalam pidato peresmian Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) Lemhannas RI tahun 1965, Bung Karno
POSISI Indonesia sangat strategis, maka dengan geopolitik dapat memahami posisi Indonesia yang berada di antara dua benua dan dua samudera agar berdampak banyak pada keberlangsungan Indonesia dan dunia. Bersama ini memahami geopolitik secara komprehensif jadi lebih holistik
BUNG Karno dalam pidato pembukaan Kongres Nasional Ke-8 BAPERKI di Istana Olahraga Gelora "Bung Karno", pada 14 Maret 1963, memberitahukan bahwa pemimpin itu, bukanlah orang yang mengakat diri sendiri menjadi pemimpin. Pemimpin yang benar pemimpin, adalah perasan dari perjuangan. Amanat Presiden
A new chapter happened. Diplomatic relations between Saudi Arabia and Iran have returned to normal. The two countries in the Middle East region agreed to reopen their respective embassies. This normalization has the effect of easing tensions and restoring peace in the region, as well as the world, so that geopolitical
GEOPOLITIK dan geostrategi Indonesia berada pada posisi yang sangat strategis di dunia. Hal itu pertama kali dikemukakan Presiden Soekarno saat menyampaikan pokok-pokok pikiran geopolitik dan geostrategi Indonesia dalam pembukaan kursus reguler angkatan pertama, sekaligus meresmikan Lembaga Ketahanan Nasional
PRESIDEN Soekarno dalam arahan dan kuliah pertama di depan para peserta Kursus Reguler Angkatan (KRA) 1 Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) di Istana Negara, Jakarta, tanggal 20 Mei 1965, menekankan bahwa tatanan demokrasi yang ideal bagi negara berkembang seperti indonesia, adalah
KONFERENSI Meja Bundar (KMB) yang berlangsung di Den Haag, Belanda, dari 23 Agustus hingga 2 November 1949, dihadiri perwakilan Republik Indonesia, Belanda, dan BFO –perwakilan berbagai negara yang diciptakan Belanda di Kepulauan Indonesia
PEMIMPIN besar bangsa Indonesia, Bung Karno, dihadapan para pemimpin 25 negara yang hadir dalam KTT Gerakan Non-Blok, 1961, di Yugosavia, berseru untuk dunia menjadi damai. Seruan emansipasi manusia ini melandasi keinginan luhur, karena demi perdamaian dunia,
PADA 30 September 1960, lewat pidatonya berjudul “To Build The World a New”, Bung Karno berpekik: “Bangunlah Dunia ini kembali! Bangunlah Dunia ini kokoh kuat dan sehat! Bangunlah suatu Dunia di mana semua bangsa hidup dalam Damai dan Persaudaraan. Bangunlah Dunia yang sesuai dengan impian dan cita-cita
