Pancasila Dan Literasi: Dua Pilar Indonesia Menghadapi Ketidakpastian Global
Dunia sedang memasuki fase yang penuh ketidakpastian. Konflik geopolitik di berbagai kawasan, persaingan ekonomi antarnegara, disrupsi teknologi kecerdasan buatan, perubahan iklim, hingga perang informasi yang berlangsung di ruang digital telah menciptakan tantangan baru bagi setiap bangsa. Tidak ada negara yang benar-benar kebal terhadap perubahan ini.
Bahkan, negara-negara maju sekalipun harus terus beradaptasi agar tidak tertinggal dalam kompetisi global yang semakin ketat. Dalam situasi seperti ini, Indonesia membutuhkan fondasi yang kuat agar mampu bertahan sekaligus berkembang di tengah arus perubahan dunia. Fondasi tersebut adalah ideologi yang kokoh, dan literasi yang maju.
Bagi Indonesia, ideologi itu adalah Pancasila. Sejak awal kemerdekaan, Pancasila telah menjadi titik temu berbagai perbedaan yang ada di Nusantara. Di tengah keberagaman suku, agama, bahasa, budaya, dan kepentingan politik, Pancasila hadir sebagai perekat yang menyatukan bangsa. Ia bukan sekadar dasar negara yang tercantum dalam konstitusi, melainkan pandangan hidup yang memberikan arah bagi perjalanan Indonesia.
Tambahan pula tantangan zaman saat ini berbeda dengan masa ketika Indonesia pertama kali merdeka. Ancaman terhadap bangsa tidak lagi selalu datang dalam bentuk penjajahan fisik atau agresi militer. Ancaman justru hadir melalui ruang digital, infiltrasi budaya, penyebaran hoaks, radikalisme, polarisasi sosial, hingga berbagai bentuk manipulasi informasi yang dapat memengaruhi cara berpikir masyarakat. Dalam era media sosial, seseorang dapat menerima ribuan informasi setiap hari tanpa memiliki cukup waktu untuk memverifikasi kebenarannya. Akibatnya, masyarakat menjadi rentan terhadap disinformasi yang dapat memecah persatuan bangsa.
Di era media sosial, setiap orang dapat terpapar ribuan informasi setiap hari tanpa memiliki cukup waktu untuk memverifikasi kebenarannya. Akibatnya, masyarakat menjadi semakin rentan terhadap disinformasi yang dapat mengancam persatuan nasional.
Di sinilah pentingnya literasi. Literasi tidak lagi dapat dipahami hanya sebagai kemampuan membaca dan menulis. Literasi modern mencakup kemampuan memahami informasi, berpikir kritis, menganalisis fakta, membedakan antara opini dan data, serta mengambil keputusan berdasarkan pengetahuan yang benar. Literasi adalah kemampuan yang memungkinkan seseorang tidak mudah terjebak dalam propaganda, manipulasi, atau informasi palsu yang beredar di ruang publik.
Dengan begitu hubungan antara Pancasila dan literasi ¬sesungguhnya sangat erat. Pancasila memberikan arah moral dan tujuan kehidupan berbangsa, sementara literasi memberikan kemampuan untuk mewujudkan tujuan tersebut. Tanpa ideologi yang kuat, literasi dapat kehilangan orientasi dan hanya menjadi alat teknis tanpa arah. Sebaliknya, tanpa literasi yang memadai, nilai-nilai Pancasila hanya akan menjadi slogan yang sulit diwujudkan dalam kehidupan nyata. Keduanya saling melengkapi dan tidak dapat dipisahkan.
Dalam konteks pembangunan nasional, literasi juga menjadi faktor penting dalam meningkatkan daya saing bangsa. Dunia saat ini sedang bergerak menuju ekonomi berbasis pengetahuan. Kekuatan suatu negara tidak lagi hanya ditentukan oleh luas wilayah atau kekayaan sumber daya alamnya, tetapi juga oleh kualitas sumber daya manusianya. Negara-negara yang mampu menghasilkan inovasi, teknologi, dan ilmu pengetahuan akan memiliki posisi yang lebih kuat dalam percaturan global.
Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi salah satu kekuatan utama dunia pada pertengahan abad ke-21. Bonus demografi yang dimiliki saat ini merupakan modal strategis yang sangat berharga. Jutaan generasi muda Indonesia akan memasuki usia produktif dalam beberapa dekade mendatang. Namun peluang tersebut hanya akan menjadi keuntungan apabila didukung oleh kualitas pendidikan dan budaya literasi yang kuat. Tanpa literasi yang memadai, bonus demografi dapat berubah menjadi tantangan yang justru memperlambat pembangunan nasional.
Literasi juga merupakan bagian penting dari ketahanan nasional. Dalam konsep keamanan modern, perang tidak selalu dilakukan dengan senjata. Banyak negara kini menggunakan perang informasi untuk memengaruhi opini publik negara lain. Informasi yang menyesatkan dapat digunakan untuk menciptakan ketidakpercayaan terhadap institusi negara, memperuncing konflik sosial, bahkan melemahkan persatuan nasional. Oleh karena itu, masyarakat yang -memiliki tingkat literasi tinggi akan menjadi benteng pertama dalam menghadapi berbagai ancaman nonmiliter tersebut.
Pada saat yang sama, Pancasila berfungsi sebagai kompas moral yang menjaga arah perjalanan bangsa. Kemajuan teknologi dan ekonomi sering kali membawa konsekuensi sosial yang kompleks. Kecerdasan buatan, digitalisasi, dan otomatisasi memang membuka banyak peluang, tetapi juga dapat menimbulkan kesenjangan baru apabila tidak dikelola dengan bijaksana. Maka Pancasila memberikan kerangka etis agar kemajuan tidak mengorbankan kemanusiaan, keadilan, dan persatuan.
Dengan kata lain, Pancasila memastikan bahwa pem¬bangunan tidak hanya menghasilkan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga kesejahteraan yang berkeadilan. Karena itu, membangun Indonesia masa depan tidak cukup hanya dengan membangun infrastruktur fisik. Jalan raya, pelabuhan, kawasan industri, dan teknologi modern memang penting, tetapi pembangunan manusia jauh lebih menentukan.
Bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang memiliki gedung tinggi dan teknologi canggih. Melainkan pula sebagai bangsa yang memiliki warga negara yang berkarakter, ber¬pengetahuan, dan mampu berpikir kritis. Di sinilah peran pendidikan dan literasi menjadi sangat strategis. Dari itu generasi muda Indonesia harus dipersiapkan memiliki keberanian untuk berpikir, kemampuan untuk belajar sepanjang hayat, dan karakter yang berlandaskan nilai-nilai Pancasila.
Masa depan Indonesia sangat ditentukan oleh kualitas manusianya. Maka Pancasila dan literasi merupakan dua pilar yang harus berjalan beriringan dalam membangun kualitas tersebut. Pancasila memberikan arah dan tujuan, sementara literasi menyediakan kemampuan untuk mencapainya. Ketika nilai-nilai Pancasila hidup dalam diri masyarakat yang literat, lahirlah manusia Indonesia yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara moral dan sosial.
Prof. Dr. Drs. Ermaya Suradinata, SH, MH, MS adalah Pemerhati Geopolitik, dan Geostrategi, serta Manajemen Pemerintahan.
